top of page

Anak Tidak Sabaran Menunggu Giliran dan Selalu Buru-buru? Kenali Penyebabnya

4 days ago
3 min read
Anak tidak sabar

Si kecil merengek begitu harus antre, mengambil mainan sebelum temannya selesai bermain, dan menjawab pertanyaan sebelum Anda selesai bicara. Makan, mandi, mengerjakan PR, semuanya ingin cepat beres. Anda sudah berulang kali berkata, “Tunggu sebentar, ya,” tetapi ia tetap meledak. Wajar kalau Anda mulai bertanya-tanya, apakah ini memang tahap yang sedang ia lalui, atau ada hal lain di baliknya?


Tidak Sabar pada Anak Itu Seperti Apa?

Tidak sabar berarti anak kesulitan menahan dorongan untuk segera mendapat atau melakukan sesuatu. Kemampuan menunggu termasuk bagian dari pengendalian diri, dan kemampuan ini tumbuh pelan-pelan. Anak usia dini wajar belum tahan menunggu lama, sedangkan anak yang lebih besar biasanya sudah lebih mampu menunda keinginan.


Jadi, anak yang kadang tergesa atau protes saat disuruh menunggu bukan otomatis bermasalah. Pertanyaan yang lebih tepat adalah apakah tingkat ketidaksabarannya masih sepadan dengan usianya.


Di Balik Anak yang Serba Ingin Cepat

Ada banyak hal yang bisa membuat anak sulit menunggu. Sebagian besar karena otak bagian pengendali diri memang belum matang. Faktor sehari-hari juga berpengaruh: perut lapar, badan lelah, atau kurang tidur membuat anak lebih mudah kesal. Anak yang cemas bisa terburu-buru karena ingin segera lepas dari rasa tidak nyaman, sedangkan anak yang belum paham konsep “giliran” kerap menyerobot tanpa maksud nakal. Pola asuh di rumah, misalnya keinginan yang hampir selalu langsung dituruti, juga membentuk kebiasaan ini. Pada sebagian anak, perilaku ini berjalan beriringan dengan kondisi lain, termasuk ADHD, sehingga gambaran utuhnya penting untuk dilihat.


Perilaku yang sering tampak antara lain: tidak tahan menunggu giliran, memotong omongan orang lain, menyelesaikan tugas asal cepat, menangis atau marah ketika harus menunggu, dan sulit menerima kata “nanti”. Daftar ini bukan alat diagnosis. Hal yang lebih bermakna untuk dicermati adalah di situasi apa saja perilaku itu muncul, sudah berapa lama, dan sejauh mana mengganggu aktivitas anak.


Latihan Sabar yang Bisa Dimulai Oleh Orangtua

Mulailah dari menunggu yang sangat singkat, misalnya sampai Anda selesai menghitung sampai sepuluh, lalu naikkan durasinya sedikit demi sedikit. Beri tahu anak sebelum kegiatan berganti agar ia siap, ajak bermain permainan yang menuntut giliran seperti ular tangga atau kartu, dan sebutkan dengan jelas saat ia berhasil menunggu: “Tadi kamu sabar sekali, terima kasih ya.” Anak juga belajar dari melihat. Saat Anda mengantre dengan tenang di depan anak, itu contoh yang lebih kuat daripada nasihat. Satu hal yang sebaiknya dihindari: membandingkan anak dengan kakak atau temannya, atau mengomel di depan orang lain. Anak yang merasa dipermalukan cenderung makin sulit menahan diri.


Apa yang Dilakukan Psikolog Anak Saat Asesmen?

Bila ketidaksabaran anak terasa melebihi kewajaran, asesmen oleh psikolog anak bisa membantu mencari tahu sebabnya. Prosesnya biasanya terdiri dari wawancara dengan orang tua, pengamatan langsung, dan aktivitas bermain yang disesuaikan dengan usia anak. Dari situ psikolog menilai apakah perilaku anak lebih terkait dengan tahap perkembangan, pengelolaan emosi, atau perhatian. Jika perlu, orang tua akan dirujuk ke dokter spesialis. Hasilnya menjadi dasar untuk memilih dukungan yang paling cocok, seperti behavior therapy atau terapi okupasi.


Tanda Anak Perlu Didampingi Profesional

Banyak anak yang kurang sabar akan membaik seiring bertambah usia dan latihan di rumah, jadi tidak semuanya perlu asesmen. Pertimbangkan konsultasi bila Anda mendapati hal-hal berikut:

  • Sudah dilatih berminggu-minggu, tetapi tidak ada perubahan berarti.

  • Perilaku sama muncul di rumah, di sekolah, dan di tempat lain.

  • Anak sering tantrum atau memukul saat harus menunggu.

  • Anak dijauhi teman karena tidak bisa bergiliran atau sering menyela.

  • Nilai atau hasil belajar turun karena tugas dikerjakan serampangan.

  • Anak pernah mengatakan ingin melukai diri atau tidak ingin hidup (segera cari bantuan profesional), atau Anda sudah kehabisan cara.


Menghadapi anak yang serba ingin cepat memang menguras tenaga. Mencatat kapan perilaku itu muncul akan membantu Anda dan profesional melihat pola yang sebenarnya. Meminta bantuan ahli bukan berarti pengasuhan Anda gagal, melainkan cara untuk mendapat gambaran yang lebih jelas.


BFL SQP Gading Serpong, Tangerang, melayani psikologi anak, terapi wicara, terapi okupasi, behavior therapy, dan Kinesiology Therapy. Tim kami siap membantu Anda memahami kondisi si kecil dan mendampinginya di rumah.

Comments


bottom of page