top of page

Rumah, Sekolah, dan Relasi: Cara Anak Melihat Dunia

  • Mar 30
  • 3 min read

Updated: Apr 1

Moves from Movies: Na Willa

Oleh: Justine Elisse, M.Psi., Psikolog

Na Willa Movie Official Poster
Na Willa Movie Official Poster

Na Willa bercerita tentang kehidupan seorang anak perempuan berusia enam tahun bernama Willa, yang tumbuh di sebuah gang kecil di Surabaya pada era 1960-an. Melalui sudut pandangnya yang polos dan penuh imajinasi, dunia sederhana di sekitarnya terasa seperti tempat yang penuh keajaiban, mulai dari bermain bersama teman-temannya, pergi ke pasar, hingga menikmati hal-hal kecil dalam keseharian.


Namun, seiring waktu, dunia yang ia kenal perlahan berubah. Teman-temannya mulai bersekolah, jarak mulai terasa, dan ia dihadapkan pada pengalaman kehilangan serta perubahan yang tidak ia pahami sepenuhnya. Keinginan Willa untuk masuk sekolah pun muncul, dengan harapan dapat mengembalikan kebersamaan yang dulu ia miliki. Ketika akhirnya ia masuk ke lingkungan sekolah, Willa justru menemukan dunia yang baru, dengan aturan, batasan, dan realitas yang berbeda dari imajinasinya. Dari sanalah ia mulai belajar bahwa tumbuh berarti menghadapi perubahan, memahami perasaan, dan perlahan berdamai dengan kenyataan.

The True Foundation of a Child’s Education

Film Na Willa mengingatkan kita pada satu hal yang sering dianggap sederhana, namun sangat fundamental: pendidikan pertama anak terjadi di rumah. Orang tua bukan sekadar pengasuh, melainkan figur utama yang membentuk cara anak berpikir, merasakan, dan bersikap terhadap dunia. Dalam psikologi perkembangan, nilai, moral, dan etika tidak ditanamkan melalui instruksi semata, tetapi melalui pengalaman yang diulang setiap hari. Anak belajar dari apa yang ia lihat. Cara orang tua merespons emosi, berkomunikasi, dan mengambil keputusan menjadi contoh konkret yang secara perlahan diinternalisasi. Karena itu, apa yang diajarkan tidak bisa dilepaskan dari apa yang dilakukan. Anak tidak hanya mendengar, tetapi meniru. Konsistensi antara nilai yang diucapkan dan perilaku yang ditunjukkan menjadi kunci dalam pembentukan karakter. Pada akhirnya, pendidikan bukan hasil dari satu keputusan besar, melainkan akumulasi dari interaksi kecil yang terjadi setiap hari.


Kemampuan akademik seperti membaca dan menulis memang dapat dipelajari melalui berbagai cara, bahkan di luar pendidikan formal. Namun, perkembangan anak tidak berhenti pada aspek kognitif. Anak membutuhkan ruang yang lebih luas untuk belajar berinteraksi, memahami perbedaan, serta mengembangkan cara pandang terhadap dirinya dan lingkungan. Di sinilah sekolah memiliki peran yang tidak tergantikan. Sekolah bukan hanya tempat untuk mencapai prestasi, tetapi ruang sosial di mana anak belajar membangun relasi, menghadapi tantangan, serta mengembangkan kemampuan adaptasi dan regulasi diri. Pengalaman ini melengkapi fondasi yang telah dibangun di rumah, sejalan dengan pendekatan bioekologis yang menekankan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh interaksi berbagai sistem di sekitarnya, terutama keluarga dan sekolah.


Film Na Willa juga mengingatkan bahwa pemilihan sekolah tidak cukup dilihat dari kualitas akademik atau reputasi semata. Lingkungan di dalamnya, baik dari teman sebaya maupun peran guru, memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan pola pikir, nilai, dan cara anak memandang dirinya. Guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai figur signifikan yang dapat menjadi sumber dukungan emosional, model perilaku, serta fasilitator perkembangan. Bagi sebagian besar anak, guru bisa menjadi figur kedua setelah orang tua yang membentuk rasa percaya diri dan cara mereka melihat dunia. Karena itu, penting bagi orang tua untuk tidak hanya berfokus pada “di mana anak bersekolah”, tetapi juga “bagaimana anak mengalami sekolahnya”. Apakah anak merasa aman? Apakah ia didukung untuk berkembang? Apakah ia belajar bukan hanya untuk berprestasi, tetapi juga untuk memahami dirinya dan orang lain?


Pada akhirnya, film ini menegaskan bahwa pendidikan yang utuh lahir dari kolaborasi antara rumah dan sekolah. Orang tua membangun fondasi, sementara sekolah memperluas pengalaman dan memperkaya proses belajar anak. Sekolah terbaik tidak akan sepenuhnya menggantikan peran orang tua, tetapi orang tua yang hadir dan konsisten akan selalu memperkuat proses pendidikan anak, di mana pun ia belajar. Ketika keduanya berjalan selaras, anak tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga matang secara emosional, sosial, dan moral. Di titik inilah pendidikan menemukan maknanya yang paling dalam, bukan sekadar tentang apa yang anak ketahui, tetapi tentang siapa ia menjadi.

Comments


bottom of page