Melihat Dunia dari Spektrum yang Berbeda
- Apr 24
- 4 min read
Moves from Movies: Atypical (2017)
Oleh: Justine Elisse, M.Psi., Psikolog

Serial Atypical mengikuti perjalanan Sam Gardner, seorang remaja dengan Autism Spectrum Disorder (ASD), yang mulai mengeksplorasi kemandirian, relasi, dan identitas dirinya. Dari keinginannya untuk memiliki pacar, cerita berkembang menjadi proses yang lebih dalam tentang bagaimana ia memahami dunia yang sering terasa tidak intuitif, sekaligus bagaimana lingkungannya belajar memahami dirinya.
Salah satu hal yang paling terlihat dari Sam adalah cara ia memproses dunia. Ia cenderung berpikir secara literal, sehingga makna tersirat, sarkasme, atau aturan sosial yang tidak diucapkan sering kali tidak langsung ia pahami. Interaksi sosial bukan sesuatu yang otomatis, tetapi perlu dipelajari secara eksplisit. Selain itu, ia juga memiliki sensitivitas sensorik yang tinggi. Suara ramai, perubahan mendadak, atau situasi yang tidak terstruktur dapat terasa sangat intens. Dalam konteks ini, rutinitas bukan sekadar preferensi, tetapi kebutuhan untuk menjaga stabilitas.
Jika dilihat lebih dalam, ini bukan tentang ketidakmampuan, melainkan perbedaan cara otak memproses informasi. Individu dengan ASD cenderung lebih fokus pada detail dan kurang mengandalkan intuisi sosial otomatis. Hal ini berkaitan dengan perbedaan dalam pemrosesan informasi sosial, integrasi sensorik, serta konektivitas antar area otak, sehingga pengalaman terhadap dunia terasa berbeda sejak awal.
1. Apa Itu Autism Spectrum Disorder?
ASD adalah kondisi neurodevelopmental yang memengaruhi komunikasi, interaksi sosial, serta respons terhadap lingkungan. Secara historis, pemahaman tentang autisme bermula pada pertengahan abad ke-20, ketika Leo Kanner pertama kali mengidentifikasi pola perilaku pada anak-anak yang menunjukkan kesulitan dalam interaksi sosial, komunikasi, serta kecenderungan pada rutinitas yang kaku dan minat yang terbatas. Pada periode yang sama, Hans Asperger juga mendeskripsikan anak-anak dengan karakteristik serupa, namun dengan kemampuan bahasa dan kognitif yang relatif baik. Seiring berkembangnya riset, ditemukan bahwa perbedaan tersebut berkaitan dengan cara otak memproses informasi, bukan sekadar pola perilaku yang tampak di permukaan.
Istilah “spectrum” menunjukkan bahwa tidak ada satu profil yang sama. Cara membayangkannya bukan sebagai garis dari ringan ke berat, tetapi seperti spektrum warna, di mana setiap individu memiliki kombinasi karakteristik yang unik. Ada yang sangat kuat secara kognitif tetapi kesulitan secara sosial, ada yang membutuhkan dukungan dalam komunikasi, dan ada yang menunjukkan minat spesifik yang sangat mendalam. Pemahaman ini penting karena membantu kita melihat bahwa diagnosis ASD bukan kategori yang kaku, melainkan kerangka untuk memahami keberagaman cara individu memproses dunia.
2. Ketika Masa Remaja Bertemu dengan Diagnosis ASD
Masa remaja adalah fase di mana tuntutan sosial menjadi lebih kompleks dan abstrak. Relasi tidak lagi sekadar interaksi, tetapi melibatkan pemahaman emosi, batasan, dan dinamika yang tidak selalu terlihat secara langsung. Pada remaja dengan ASD, tantangan ini menjadi berlapis. Mereka memiliki dorongan yang sama untuk diterima, menjalin hubungan, dan mandiri, tetapi perlu mempelajari banyak aspek sosial yang bagi orang lain terasa intuitif. Di saat yang sama, perubahan hormonal meningkatkan intensitas emosi, sehingga pengalaman sosial bisa terasa lebih membingungkan atau melelahkan.
Hal ini membuat remaja dengan ASD sering berada dalam posisi “ingin terhubung, tetapi tidak selalu tahu bagaimana caranya”. Tanpa dukungan yang tepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi kecemasan atau penarikan diri. Namun dengan intervensi yang konsisten, mereka dapat membangun keterampilan sosial dan regulasi emosi secara bertahap, seperti yang terlihat pada perkembangan Sam.
3. Semua Orang “Atypical” dalam Caranya Sendiri
Pada serial Atypical ini, kita diajak untuk melihat bahwa perbedaan tidak hanya ada pada Sam. Karakter lain dalam cerita, termasuk orang tua, teman, hingga figur profesional, juga memiliki dinamika, konflik, dan cara pandang masing-masing. Ini menjadi pengingat bahwa setiap individu memiliki cara memaknai dunia yang unik. Pada individu dengan ASD, perbedaan tersebut lebih terlihat karena tidak selalu mengikuti norma sosial umum. Namun pada dasarnya, semua orang bertindak dari pengalaman, kebutuhan, dan perspektifnya masing-masing. Pendekatan ini membantu menggeser cara pandang dari “menilai perbedaan” menjadi “memahami variasi”. Bukan tentang siapa yang paling tepat, tetapi bagaimana setiap individu bisa dipahami dalam konteksnya.
4. Peran Lingkungan: Dari Memahami ke Mendukung
Dukungan terhadap individu dengan ASD tidak hanya berfokus pada individu, tetapi juga pada lingkungan di sekitarnya. Intervensi sejak dini terbukti membantu dalam membangun keterampilan komunikasi, regulasi emosi, dan kemandirian. Pada Sam, hal ini terlihat dari kemampuannya mengenali dirinya dan menggunakan strategi untuk menghadapi situasi yang menantang.
Bagi orang tua dan orang terdekat, penting untuk membangun struktur yang konsisten, menggunakan komunikasi yang jelas, serta mengenali kekuatan anak sebagai dasar pengembangan. Memberikan validasi tanpa overprotection juga menjadi kunci, agar anak tetap merasa aman sekaligus memiliki ruang untuk berkembang.
Sementara itu, bagi lingkungan yang lebih luas, seperti guru, teman, atau masyarakat, dukungan dapat dimulai dari hal sederhana. Memberi waktu lebih dalam interaksi, tidak terburu-buru menilai perilaku sebagai “aneh”, serta mencoba memahami konteks di balik respons yang muncul. Lingkungan yang suportif bukan hanya yang menerima, tetapi yang mampu menyesuaikan diri secara aktif. Ketika individu dengan ASD berada dalam lingkungan yang memahami, potensi mereka dapat berkembang jauh lebih optimal.
Pada akhirnya, serial Atypical mengingatkan kita bahwa memahami diagnosis ASD bukan hanya tentang mengenali perbedaannya, tetapi tentang mengubah cara kita melihatnya. Di bulan World Autism Awareness ini, mari kita mulai dengan menggeser fokus dari “apa yang berbeda” menjadi “apa yang bisa kita diupayakan”. Karena setiap individu memiliki cara unik dalam mengalami dunia, dan dari situlah kita belajar untuk saling menghargai dengan lebih utuh.
.png)



Comments