top of page

Anak Sering Tantrum, Melawan, dan Sulit Diatur: Kenali Behavior Therapy untuk Mendukung Perilaku Anak

Oct 24
3 min read

Anak Tantrum

Anak Anda meminta mainan di toko, lalu Anda berkata tidak. Seketika ia menangis keras, berguling di lantai, dan orang-orang mulai menoleh. Di rumah, kejadian serupa muncul hampir setiap hari: menolak mandi, berteriak saat diminta berhenti bermain gawai, atau memukul saat keinginannya tidak dituruti. Anda pun bertanya-tanya: “Apakah ini wajar? Dan adakah cara yang tepat agar ia belajar mengelola perilakunya?”


Apa Itu Behavior Therapy?

Behavior therapy atau terapi perilaku adalah pendekatan yang berfokus pada perilaku yang tampak pada anak, apa yang memicunya, dan apa yang terjadi sesudahnya. Dari pola tersebut, anak dibantu mempelajari cara-cara baru yang lebih sesuai, misalnya meminta dengan tenang, menunggu giliran, atau menerima kata “tidak”.


Manfaat yang paling sering dikaitkan dengan pendekatan ini: membantu anak mengenali dan mengelola emosinya, melatih keterampilan menyelesaikan masalah, mendukung kemampuan mengikuti aturan dan rutinitas, serta membantu orang tua memahami cara merespons perilaku anak secara konsisten. Hasilnya tentu berbeda pada tiap anak, tergantung usia, karakter, dan kebutuhannya.


Mengapa Pendekatan Ini Bisa Mendukung Perilaku Anak?

Perilaku anak umumnya dipelajari dari pengalamannya. Bila menangis keras berulang kali membuat keinginannya terpenuhi, anak belajar bahwa cara itu efektif. Sebaliknya, bila perilaku yang tepat mendapat perhatian dan penguatan, anak terdorong untuk mengulanginya. Terapi perilaku memanfaatkan prinsip ini secara terarah: mengamati pola, menetapkan tujuan yang jelas, mengajarkan perilaku pengganti, dan memberi penguatan secara bertahap. Orang tua juga dilibatkan agar langkah yang dilatih dalam sesi dapat diterapkan di rumah dengan cara yang sama.


Beberapa tanda anak yang mungkin terbantu dengan pendekatan ini: tantrum yang sering dan berlangsung lama, kesulitan mengikuti aturan atau instruksi sederhana, mudah meledak saat keinginannya ditolak, perilaku agresif seperti memukul atau melempar barang, atau kesulitan berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Perlu diingat, perilaku anak tidak selalu berasal dari satu sebab. Kesulitan berbahasa, kebutuhan sensorik, rasa lelah, atau kebutuhan akan rasa aman juga dapat berperan. Karena itu, perilaku anak sebaiknya dipahami lebih dulu sebelum ditangani, dan tidak semua anak membutuhkan pendekatan yang sama.


Mengenal Behavior Therapy: Ketika Perilaku Dipelajari Secara Terarah

Berbeda dengan sekadar menegur atau memberi hukuman, behavior therapy dirancang dan didampingi oleh profesional. Dalam praktiknya, terapis mengamati perilaku anak dalam situasi nyata, mencatat pemicu dan responsnya, lalu menyusun tahapan latihan yang sesuai dengan kemampuan anak. Tingkat tantangan dinaikkan perlahan, dan setiap kemajuan, sekecil apa pun, diberi penguatan positif. Ini adalah salah satu pendekatan yang dapat digunakan sebagai bagian dari dukungan yang lebih luas bagi sebagian anak, tergantung kebutuhan individu dan tujuan yang ditetapkan bersama seorang profesional.


Kapan Sebaiknya Orang Tua Mempertimbangkan Konsultasi Profesional?

Sebagian besar tantrum dan penolakan pada anak adalah hal yang wajar dalam proses tumbuh kembang, sehingga tidak selalu membutuhkan penanganan profesional. Meski begitu, beberapa kondisi berikut layak dijadikan alasan untuk mulai berkonsultasi:

  • Tantrum atau ledakan emosi terjadi sangat sering, berlangsung lama, atau sulit ditenangkan.

  • Anak menyakiti diri sendiri, orang lain, atau merusak barang saat marah.

  • Anak sangat sulit mengikuti aturan atau instruksi sederhana meski sudah dijelaskan berulang kali.

  • Perilaku anak mengganggu aktivitas sehari-hari, sekolah, atau hubungannya dengan teman dan keluarga.

  • Cara-cara yang sudah dicoba di rumah belum membuahkan perubahan.

  • Anda merasa lelah, cemas, atau kehabisan ide untuk menyikapi perilaku anak.


BFL SQP Gading Serpong, Tangerang, adalah pusat yang menyediakan layanan psikologi anak, terapi perilaku, terapi wicara, dan terapi okupasi. Melalui asesmen, tim profesional dapat menilai apakah perilaku anak berkaitan dengan emosi, komunikasi, atau sensorik, lalu menyusun dukungan yang sesuai dengan kebutuhan anak dan keluarga.

Comments


bottom of page