top of page

Alasan Anak Sering Tantrum: Bisa Jadi karena Overstimulasi! Ini yang Perlu Orang Tua Pahami

6 days ago
4 min read
Anak tantrum di tengah keramaian

Anda sedang di tengah supermarket. Anak Anda tiba-tiba menjerit, menangis kencang, bahkan berguling di lantai karena permintaannya tidak dituruti. Anda sudah mencoba bicara baik-baik, tapi anak semakin marah. Anda pulang dengan perasaan campur aduk — lelah, malu, dan diam-diam bertanya-tanya: “Apakah ini wajar? Atau ada yang perlu saya pahami lebih dalam tentang anak saya?”


Sebenarnya, Apa Itu Tantrum?

Tantrum adalah ledakan emosi yang biasanya muncul dalam bentuk menangis keras, berteriak, mengamuk, atau memukul dan menendang, yang terjadi ketika anak merasa sangat kewalahan secara emosional. Ini bagian yang sangat umum dari tumbuh kembang anak, terutama di usia balita hingga awal usia sekolah.


Alasan anak sering tantrum yang paling sering ditemui: rasa frustrasi karena keinginan tidak tersampaikan, kelelahan atau lapar, kesulitan komunikasi (terutama pada anak yang kosakatanya masih terbatas), perubahan atau transisi mendadak, dan keinginan untuk mandiri yang belum diimbangi kemampuannya.


Sensory Overload Sebagai Alasan Anak Sering Tantrum

Sensory overload (kelebihan rangsangan sensorik) terjadi ketika otak anak menerima lebih banyak informasi dari panca indra daripada yang bisa diproses dengan nyaman. Ini bisa dipicu oleh suara yang keras atau ramai, keramaian, cahaya yang terlalu terang, sentuhan atau tekstur tertentu, atau terlalu banyak hal terjadi bersamaan. Bagi anak yang sensitif, situasi yang bagi orang dewasa terasa biasa saja — pusat perbelanjaan yang ramai, misalnya — bisa terasa sangat membanjiri.


Beberapa tanda yang bisa diperhatikan: anak menutup telinga di tempat ramai, menghindari tekstur atau pakaian tertentu, atau tantrum yang muncul lebih intens dan lebih lama di situasi tertentu (mal, pesta ulang tahun, ruang kelas ramai) dibanding di rumah yang lebih tenang.


Apa yang Bisa Orang Tua Lakukan Saat Anak Tantrum

Saat tantrum sedang terjadi, tetap tenang secara fisik meskipun situasinya sulit — anak sering “meniru” tingkat ketenangan orang dewasa di sekitarnya. Pastikan anak aman dari bahaya fisik, coba turunkan rangsangan di sekitar (pindah ke tempat yang lebih tenang bila memungkinkan), dan gunakan kalimat pendek, bukan penjelasan panjang, karena kemampuan anak memproses kata-kata sangat menurun saat emosinya memuncak.


Setelah anak tenang, bantu ia menamai perasaannya (“Tadi kamu kelihatan sangat kesal ya, karena mainannya harus disimpan”) tanpa menghakimi — ini fondasi penting untuk kemampuan regulasi emosi jangka panjang. Mengamati pola dan pemicu tantrum (kapan, di mana, setelah aktivitas apa), serta memberi peringatan sebelum transisi (“5 menit lagi kita beres-beres ya”), juga membantu mengurangi frekuensinya dari waktu ke waktu.


Stimulasi Sensorik yang Tepat untuk Membantu Regulasi Emosi

Stimulasi sensorik adalah aktivitas yang melibatkan panca indra — sentuhan, gerakan, suara, penglihatan — yang bila sesuai dengan kebutuhan anak, dapat membantu tubuh dan sistem sarafnya kembali ke kondisi yang lebih tenang. Contohnya bermain pasir kinetik atau play dough, pelukan erat (deep pressure), ayunan dengan gerakan lembut, musik bertempo tenang, atau aktivitas fisik yang menyalurkan energi seperti melompat di ruang yang aman.


Setiap anak punya kebutuhan sensorik berbeda — ada yang lebih cepat tenang dengan rangsangan menenangkan, ada pula yang justru perlu menyalurkan energi lebih dulu. Karena itu, tidak ada satu resep yang cocok untuk semua anak, dan menambah rangsangan tanpa memperhatikan respons anak justru bisa membuatnya makin kewalahan, bukan lebih tenang.


Mengenal Snoezelen Room: Ruang Multisensori untuk Eksplorasi Sensorik

Ruangan Snoezelen

Salah satu pendekatan yang digunakan dalam dunia terapi anak untuk mendukung eksplorasi dan regulasi sensorik adalah Snoezelen Room, atau ruang multisensori. Ruangan ini dirancang khusus untuk memberikan pengalaman sensorik yang terkontrol — memadukan pencahayaan lembut yang bisa diatur, elemen visual, suara yang menenangkan, serta tekstur yang bisa disentuh dan dieksplorasi, semuanya dapat disesuaikan tergantung kebutuhan anak saat itu.


Dalam praktiknya, seorang terapis dapat menggunakan ruang seperti ini secara terarah — mengamati bagaimana seorang anak merespons cahaya, suara, atau tekstur tertentu, lalu menyesuaikan lingkungan tersebut sebagai bagian dari pendekatan terapeutik yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan anak tersebut. Penting dipahami dengan jujur: Snoezelen Room bukan solusi instan dan bukan sesuatu yang “menghilangkan” tantrum. Ini adalah salah satu lingkungan atau alat yang dapat digunakan sebagai bagian dari pendekatan yang lebih luas untuk mendukung eksplorasi dan regulasi sensorik pada sebagian anak, tergantung kebutuhan individu dan tujuan terapi yang ditetapkan bersama seorang profesional.


Kalau Sudah Coba Berbagai Cara di Rumah, Tapi Masih Bingung

Banyak orang tua sudah mencoba berbagai strategi di rumah — tetap tenang, memvalidasi perasaan anak, menyesuaikan rutinitas — tapi masih merasa belum sepenuhnya memahami apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya. Ini perasaan yang sangat wajar, bukan tanda kegagalan sebagai orang tua. Berbicara dengan seorang profesional bisa membantu Anda memahami perilaku anak secara lebih mendalam, bukan untuk mencari “label,” tapi untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang sedang dialami anak Anda.


BFL SQP Gading Serpong, Tangerang, adalah pusat yang menyediakan layanan psikologi anak serta dukungan tumbuh kembang dan terapi anak. BFL memiliki fasilitas Snoezelen Room seperti yang dijelaskan di atas, yang dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam mendukung eksplorasi sensorik anak, sesuai dengan kebutuhan yang dinilai oleh tim profesional.


Kapan Sebaiknya Orang Tua Mempertimbangkan Konsultasi Profesional?


Tidak semua tantrum perlu ditangani oleh profesional — sebagian besar adalah bagian normal dari tumbuh kembang. Namun ada beberapa tanda yang bisa menjadi pertimbangan untuk berkonsultasi:

  • Tantrum terjadi sangat sering, hampir setiap hari, dalam intensitas yang tinggi.

  • Anak butuh waktu sangat lama untuk pulih dan tenang kembali.

  • Perilaku ini mengganggu aktivitas sehari-hari, sekolah, atau hubungan dengan orang di sekitarnya.

  • Ada kesulitan komunikasi yang tampak menonjol dibanding anak-anak seusianya.

  • Anak tampak sangat sensitif terhadap rangsangan sensorik tertentu, sampai memengaruhi keseharian.

  • Orang tua memiliki kekhawatiran lain terkait tumbuh kembang anak secara umum, atau merasa kehabisan cara untuk merespons.


Mencari bantuan profesional bukan tanda bahwa ada yang “salah” secara serius dengan anak Anda — ini langkah untuk memahami anak Anda lebih baik, dengan dukungan orang yang memang berpengalaman di bidangnya.


Kalau setelah membaca ini Anda merasa masih butuh pemahaman lebih dalam tentang emosi, perilaku, atau kebutuhan sensorik anak Anda, tim di BFL SQP Gading Serpong, Tangerang siap membantu Anda memahami kondisi anak melalui konsultasi dengan psikolog anak dan tim profesional lainnya.

Comments


bottom of page