Anak Sering Membandingkan Dirinya dengan Teman? Ini yang Perlu Orang Tua Ketahui

“Teman aku bisa, kok aku nggak?” atau “Aku nggak sepintar dia.” Pernah mendengar anak mengatakan hal seperti ini? Membandingkan diri dengan teman dapat menjadi bagian dari proses anak mengenali dirinya. Namun, jika terus membuat anak merasa kurang, takut mencoba, atau kehilangan kepercayaan diri, orang tua perlu memahami apa yang sedang dirasakan anak.
Kenapa Anak Sering Membandingkan Dirinya dengan Teman?
Seiring bertambahnya usia, anak mulai menyadari bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Anak dapat melihat teman yang lebih cepat membaca, lebih pandai menggambar, lebih mudah bergaul, atau lebih unggul dalam kegiatan tertentu.
Perbandingan juga dapat dipengaruhi oleh lingkungan. Komentar dari orang dewasa, pengalaman di sekolah, hingga paparan media sosial dapat membuat anak semakin memperhatikan pencapaian orang lain. Pada dasarnya, membandingkan diri tidak selalu merupakan hal yang buruk. Anak dapat belajar mengenali kemampuan dan hal-hal yang ingin dikembangkan. Namun, orang tua perlu memperhatikan ketika perbandingan tersebut membuat anak terus merasa tidak mampu.
Ketika Perbandingan Mulai Memengaruhi Kepercayaan Diri
Coba perhatikan jika anak mulai sering mengatakan “Aku nggak bisa”, enggan mencoba hal baru karena takut gagal, mudah merasa kalah, atau menarik diri dari kegiatan bersama teman. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat memengaruhi cara anak melihat dirinya sendiri. Anak mungkin menjadi terlalu takut melakukan kesalahan atau merasa bahwa dirinya selalu kurang dibandingkan orang lain.
Karena itu, respons orang tua sangat penting.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Ketika anak membandingkan dirinya dengan teman, hindari langsung menjawab dengan perbandingan lain, seperti “Kamu harusnya bisa seperti dia.”
Sebaliknya, orang tua dapat:
Mendengarkan dan memahami perasaan anak.
Menghargai usaha, bukan hanya hasil.
Membantu anak mengenali kemampuan yang dimilikinya.
Mengingatkan bahwa setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda.
Memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba tanpa takut langsung salah.
Kalimat sederhana seperti “Tidak apa-apa kalau kamu belum bisa, kita coba pelan-pelan” dapat membantu anak merasa lebih aman untuk belajar.
Kapan Anak Perlu Berkonsultasi dengan Psikolog?
Membandingkan diri sesekali merupakan hal yang dapat terjadi dala
m perkembangan anak. Namun, jika anak terus merasa rendah diri, sangat takut gagal, menarik diri, atau perubahan tersebut mulai mengganggu sekolah, pertemanan, maupun aktivitas sehari-hari, orang tua dapat mempertimbangkan konsultasi dengan psikolog anak. Psikolog dapat membantu memahami kondisi emosional anak dan melihat faktor yang mungkin memengaruhi kepercayaan dirinya.
BFL SQP Gading Serpong, Tangerang menyediakan layanan psikologi anak untuk membantu orang tua memahami kebutuhan perkembangan dan emosional anak. Melalui konsultasi dan asesmen yang sesuai, orang tua dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai kondisi anak serta langkah pendampingan yang dapat dilakukan. Setiap anak memiliki kemampuan dan proses perkembangan yang berbeda. Membantu anak bukan berarti membuatnya menjadi seperti orang lain, tetapi mendukungnya agar dapat mengenali dan mengembangkan kemampuan dirinya dengan lebih percaya diri. Jika anak mulai sering merasa dirinya kurang dibandingkan teman, jangan abaikan perasaannya. Dengarkan, dampingi, dan cari bantuan profesional bila diperlukan.
.png)



Comments