top of page

Anak Lancar Berbicara, tetapi Tidak Menjawab Saat Dipanggil: Pahami Perbedaan Bicara dan Berkomunikasi

Oct 17
3 min read

perbedaan bicara dan berkomunikasi anak

Anak Anda bisa menyanyikan lagu kesukaannya dari awal sampai akhir, bahkan bercerita panjang tentang dinosaurus tanpa berhenti. Tapi saat Anda memanggil namanya dari ruang sebelah, ia tidak menoleh. Saat ditanya “Mau makan apa?”, ia malah membahas hal lain, atau hanya mengulang pertanyaan Anda. Anda pun bingung: “Ia sudah bisa bicara, kok rasanya kami tidak nyambung? Apakah ini wajar, atau ada yang perlu saya pahami lebih dalam?”


Sebenarnya, Apa Bedanya Bicara dan Berkomunikasi?

Jadi sebenarnya, apa perbedaan bicara dan berkomunikasi pada anak? Bicara adalah kemampuan mengeluarkan suara, kata, dan kalimat. Sedangkan berkomunikasi adalah proses dua arah: menyampaikan pesan, menangkap pesan orang lain, lalu menanggapinya. Dalam komunikasi ada banyak keterampilan yang bekerja bersamaan, seperti memperhatikan lawan bicara, memahami maksudnya, menunggu giliran, serta memakai tatapan mata dan gerakan tubuh. Jadi, anak yang kosakatanya banyak belum tentu sudah nyaman berkomunikasi dua arah.


Ada beberapa hal yang bisa membuat anak tampak “bisa bicara, tapi belum nyambung”: perhatian yang mudah teralih, pemahaman terhadap ucapan orang lain yang masih terbatas, kebiasaan menirukan kata atau kalimat tanpa memahami maknanya, minat yang sangat sempit pada satu topik, kesulitan membaca ekspresi dan isyarat sosial, hingga masalah pendengaran. Pada anak kecil, sebagian pola ini masih bisa dianggap bagian dari proses belajar.


Mengapa Anak Bisa Bicara tapi Tidak Menjawab Saat Dipanggil?

Menjawab panggilan tampak sederhana, padahal anak perlu mendengar suara, mengenali bahwa itu namanya, mengalihkan perhatian dari aktivitasnya, lalu memutuskan untuk merespons. Jika salah satu langkah ini terhambat, panggilan bisa terlewat begitu saja. Karena itu, pemeriksaan pendengaran sering menjadi langkah awal yang penting. Setelah itu, kita bisa melihat apakah kendalanya ada pada perhatian, pemahaman bahasa, atau kemampuan sosial anak.


Beberapa tanda yang bisa diperhatikan: anak jarang menoleh saat namanya dipanggil, berbicara panjang tanpa menunggu tanggapan lawan bicara, menjawab dengan hal yang tidak berkaitan, sering mengulang kalimat dari tontonan, jarang menunjuk atau menunjukkan benda yang ia sukai, atau minim kontak mata. Tanda-tanda ini bukan diagnosis. Ini hanya gambaran awal yang perlu dipahami lebih lanjut oleh profesional.


Aktivitas Bermain yang Melatih Komunikasi Dua Arah

Permainan yang berpola giliran sangat membantu, seperti cilukba, menggulirkan bola bolak-balik, menyusun balok bergantian, bernyanyi sambil sesekali berhenti agar anak melanjutkan, hingga membaca buku cerita sambil sesekali bertanya. Bermain pura-pura (masak-masakan, dokter-dokteran) juga memberi ruang bagi anak untuk berlatih mendengar, menanggapi, dan bercerita. Namun, setiap anak punya ritme dan gaya belajar yang berbeda. Ada yang cepat tertarik pada permainan fisik, ada yang lebih nyaman dengan permainan tenang. Amati respons anak dan sesuaikan aktivitasnya. Menambah tuntutan tanpa melihat kesiapan anak justru bisa membuatnya enggan berinteraksi.


perbedaan bicara dan berkomunikasi anak

Mengenal Terapi Wicara, Terapi Okupasi, dan Psikologi Anak

Dalam dunia tumbuh kembang anak, kemampuan komunikasi biasanya didukung oleh beberapa bidang. Terapi wicara berfokus pada bahasa, ucapan, dan pemahaman anak. Terapi okupasi membantu aspek seperti pengaturan sensorik, perhatian, dan kemampuan bermain. Sementara psikolog anak melihat gambaran perkembangan, perilaku, serta aspek sosial dan emosional secara menyeluruh.


Dalam praktiknya, tim profesional akan mengamati cara anak memperhatikan, memahami, dan merespons, lalu menyusun pendekatan yang sesuai. Penting dipahami dengan jujur: terapi bukan solusi instan dan tidak otomatis membuat anak langsung “lancar” berkomunikasi. Ini adalah bagian dari dukungan yang lebih luas, dan hasilnya sangat bergantung pada kebutuhan anak, tujuan yang disepakati bersama profesional, serta konsistensi stimulasi di rumah.


Kapan Sebaiknya Orang Tua Mempertimbangkan Konsultasi Profesional?

Sebagian besar anak belajar berkomunikasi dengan kecepatan masing-masing, sehingga tidak semuanya perlu ditangani profesional. Meski begitu, beberapa kondisi berikut layak dijadikan alasan untuk mulai berkonsultasi:

  • Anak sering tidak menoleh atau tidak merespons saat dipanggil, meski pendengarannya sudah diperiksa.

  • Anak banyak berbicara sendiri tetapi sulit melakukan percakapan dua arah.

  • Anak lebih sering mengulang kalimat orang lain atau tontonan daripada menyusun kalimatnya sendiri.

  • Anak minim kontak mata, jarang menunjuk, atau jarang menunjukkan benda yang ia sukai.

  • Kesulitan komunikasi mengganggu aktivitas harian, sekolah, atau hubungan dengan teman dan keluarga.

  • Anda merasa cemas dengan perkembangan anak secara keseluruhan, atau sudah kehabisan ide untuk menyikapinya.

Anak yang lancar bicara belum tentu sudah nyaman berkomunikasi dua arah, dan hal ini tidak perlu langsung dikhawatirkan. Perhatikan bagaimana si kecil menoleh, menanggapi, dan bergantian dalam percakapan, lalu temani ia belajar lewat permainan sehari-hari. Bila tanda-tandanya terasa menetap atau Anda mulai cemas, berkonsultasi dengan profesional bisa menjadi langkah awal yang menenangkan.


BFL SQP Gading Serpong, Tangerang, menyediakan layanan psikologi anak, terapi wicara, dan terapi okupasi untuk membantu orang tua memahami kebutuhan komunikasi dan perkembangan anak. Jika Anda ingin berdiskusi lebih jauh, BFL SQP Gading Serpong, Tangerang terbuka untuk konsultasi bersama tim profesionalnya

Comments


bottom of page