top of page

Memilih Pasangan Hidup: Membangun Relasi yang Sehat

Feb 10
3 min read

Updated: Sep 7

Memilih pasangan hidup sering terasa seperti memilih “orang yang tepat”. Kita mencari yang cantik atau tampan, yang cocok, atau yang secara magic membuat hati jatuh cinta. Namun, dari sudut pandang psikologi relasi, pernikahan yang sehat tidak ditentukan oleh seberapa sempurna pasangan kita. Sebaliknya, hal ini ditentukan oleh seberapa dewasa relasi yang kita bangun bersama.


Setelah kita merasa memiliki kecocokan dan semakin dekat dengan calon pasangan hidup, pendekatan berbasis relasi (relationship-based approach) mengajak kita untuk mulai bertanya, “Bagaimana cara kami berelasi?” Jadi, relasi bukan hanya tentang apa yang dia akan berikan kepada saya. Ini adalah tentang bagaimana kita berdua dapat membangun ikatan yang sehat.


Tiga Prinsip Penting dalam Memilih Pasangan Hidup


Berikut adalah tiga prinsip penting yang dapat membantu kita memilih pasangan hidup dengan lebih sadar dan realistis.


1. Jangan Berhenti di “Siapa Dia”, Lanjutkan ke “Bagaimana Kalian Berelasi”


Banyak orang terjebak pada daftar kriteria pasangan ideal. Kriteria ini bisa berupa kepribadian, latar belakang, pekerjaan, atau bahkan pelayanan dan reputasi sosial. Meskipun kriteria ini tidak salah, sering kali tidak cukup.


Yang lebih penting adalah pola relasi yang terbentuk ketika kita bersama. Pertanyaan yang perlu kita tanyakan adalah:

  • Bagaimana cara kalian menyelesaikan perbedaan pendapat?

  • Apakah konflik dibicarakan atau dihindari?

  • Apakah ada ruang untuk tidak setuju tanpa merasa terancam?


Dengan berfokus pada bagaimana kita berelasi, kita mulai berefleksi tentang relasi dengan diri sendiri. Ini adalah fondasi penting untuk sebuah relasi interpersonal yang sehat.


Dua orang yang sama-sama “baik” bisa tetap mengalami relasi yang melelahkan bila pola interaksinya tidak sehat. Sebaliknya, pasangan dengan banyak perbedaan dapat bertumbuh bila memiliki cara berelasi yang sehat dan saling menghormati. Jadi, kualitas relasi jauh lebih menentukan daripada kualitas individu semata.


2. Cinta Itu Penting, tetapi Kesiapan Emosional Lebih Diperlukan


Cinta sering dianggap cukup untuk membawa dua orang ke pernikahan. Namun, relasi intim justru menjadi ruang di mana luka psikologis paling mudah muncul. Luka masa lalu, seperti takut ditinggalkan, sulit percaya, atau kebutuhan untuk selalu mengontrol, sering kali baru terlihat jelas setelah relasi menjadi semakin dekat.


Pertanyaannya bukan apakah pasangan kita “punya masalah” atau tidak, karena setiap orang memilikinya.


Pertanyaan yang lebih penting adalah:

  • Apakah masing-masing mampu mengenali emosinya sendiri?

  • Apakah ada kesediaan untuk berefleksi dan bertanggung jawab, bukan menyalahkan?

  • Apakah hubungan ini memberi ruang untuk bertumbuh, bukan sekadar bertahan?


Relasi yang sehat bukanlah relasi tanpa konflik. Melainkan relasi yang mampu memproses konflik tanpa merusak rasa aman dan kedekatan emosional. Jadi, cinta penting, tetapi tidak cukup untuk membuat relasi bertahan.


3. Selaraskan Nilai Hidup, Bukan Hanya Selera


Kesamaan hobi atau minat sering menjadi fondasi awal ketertarikan. Namun, ini jarang menjadi penentu ketahanan pernikahan. Yang jauh lebih krusial adalah keselarasan nilai hidup. Ini mencakup bagaimana kita memandang komitmen, keluarga, peran pasangan, pengelolaan keuangan, dan makna pernikahan itu sendiri.


Perbedaan nilai bukan berarti hubungan harus diakhiri. Namun, nilai yang tidak pernah dibicarakan sering menjadi sumber konflik berkepanjangan. Banyak pasangan baru menyadari perbedaan ini setelah menikah. Ini terjadi ketika keputusan-keputusan besar harus diambil bersama.


Pendekatan relasional menekankan pentingnya percakapan yang jujur dan mendalam. Bahkan tentang topik yang terasa tidak romantis, sebelum melangkah ke komitmen jangka panjang.


Membangun Relasi yang Sehat


Memilih pasangan hidup bukan tentang menemukan orang yang sempurna. Melainkan tentang membangun relasi yang dewasa dan bertumbuh. Dengan pendekatan berbasis relasi, kita belajar bahwa kesiapan menikah bukan hanya soal usia atau perasaan cinta. Ini adalah tentang kemampuan membangun hubungan yang sehat.


Konseling pranikah dapat menjadi salah satu langkah konkret untuk mematangkan relasi. Melalui konseling pranikah, pasangan dibantu untuk:

  • Mengenali kekuatan dan kerentanan relasi.

  • Mengantisipasi potensi konflik sebelum menjadi krisis.

  • Membangun keterampilan komunikasi dan resolusi konflik.

  • Memasuki pernikahan dengan kesadaran, bukan sekadar harapan.


Pasangan yang datang ke konseling pranikah bukan karena hubungannya lemah. Mereka datang karena hubungan ini berharga.


Dengan memahami prinsip-prinsip ini, kita dapat memilih pasangan hidup dengan lebih bijak. Kita tidak hanya mencari cinta, tetapi juga membangun relasi yang sehat dan saling mendukung. Ini adalah langkah penting menuju kebahagiaan dan kesejahteraan dalam kehidupan bersama.

Comments


bottom of page