top of page

Kenapa Anak Saya Sangat Sensitif dengan Tekstur?

Oct 5
2 min read
Anak sensitif dengan tekstur

Anak menolak makan karena teksturnya “aneh di lidah,” rewel setiap kali disuruh memakai baju berbahan tertentu, atau langsung menarik tangan begitu menyentuh pasir dan rumput. Bagi sebagian orang tua, reaksi ini bisa terasa membingungkan — apakah anak sekadar rewel, atau memang benar-benar merasakannya berbeda?


Sensitivitas terhadap tekstur, atau sering disebut sensitivitas taktil, sebenarnya cukup umum terjadi pada anak-anak, dan tingkatnya bisa sangat bervariasi dari satu anak ke anak lainnya.


Memahami Anak yang Sensitif dengan Tekstur

Mengapa beberapa anak sensitif dengan tekstur, sedangkan anak lain memiliki sensitivitas yang berbeda? Setiap anak memproses informasi dari indra perabanya dengan cara yang sedikit berbeda. Pada sebagian anak, sensasi sentuhan tertentu — seperti tekstur makanan yang lengket, bahan pakaian yang kasar, atau permukaan seperti pasir dan lem — bisa terasa jauh lebih intens dibanding anak lain pada umumnya.

Penting dipahami bahwa sensitivitas tekstur bukan berarti anak sedang “cari perhatian” atau sengaja rewel. Baginya, sensasi tersebut memang terasa tidak nyaman, bahkan terkadang mengganggu. Dan ini juga tidak selalu menandakan adanya gangguan tertentu — banyak anak yang sensitif terhadap tekstur tetap berkembang dengan baik dan hanya membutuhkan pendekatan yang sedikit lebih sabar dari lingkungannya.


Yang Bisa Orang Tua Amati

Beberapa hal yang sering muncul pada anak dengan sensitivitas tekstur antara lain menolak makanan tertentu hanya karena teksturnya, bukan rasanya; rewel atau menangis saat memakai bahan pakaian tertentu, misalnya yang berjahit kasar atau ketat; menghindari aktivitas yang melibatkan sentuhan seperti bermain pasir, slime, atau cat tangan; serta bereaksi berlebihan terhadap sentuhan ringan yang sebenarnya tidak menyakitkan.


Perhatikan juga apakah reaksi ini konsisten pada tekstur tertentu saja, atau justru muncul hampir di semua situasi yang melibatkan sentuhan — ini bisa memberi gambaran seberapa besar pengaruhnya terhadap keseharian anak.


Cara Merespons Tanpa Memaksa

Memaksa anak untuk “membiasakan diri” justru sering membuat penolakannya semakin kuat. Pendekatan yang lebih membantu adalah mengenalkan tekstur baru secara bertahap dan dalam situasi yang tidak menekan, misalnya membiarkan anak menyentuh bahan baru dengan ujung jari terlebih dahulu sebelum diminta memegangnya penuh, atau menyediakan pilihan tekstur alternatif untuk pakaian maupun peralatan makan.


Hindari mengejek atau meremehkan reaksi anak, karena baginya sensasi tersebut memang nyata dirasakan. Memberi anak kendali atas pilihannya sendiri, sekecil apa pun, biasanya membuatnya lebih terbuka mencoba hal baru dengan kecepatannya sendiri.


Kapan Perlu Mendapatkan Bantuan Profesional

Sensitivitas tekstur mulai perlu diperhatikan lebih lanjut ketika sudah memengaruhi keseharian anak secara nyata, misalnya membatasi jenis makanan yang bisa dikonsumsi hingga memengaruhi asupan gizinya, membuat anak kesulitan mengikuti aktivitas sekolah atau bermain bersama teman, atau menimbulkan reaksi yang sangat intens hingga mengganggu keseharian keluarga.


Dalam situasi seperti ini, konsultasi dengan psikolog atau terapis okupasi anak dapat membantu memahami pola sensorik anak secara lebih menyeluruh, termasuk menentukan pendekatan yang tepat untuk membantunya merasa lebih nyaman menghadapi berbagai tekstur sehari-hari.


BFL SQP Gading Serpong, Tangerang, menyediakan dukungan berbasis kebutuhan sensorik anak, termasuk pendekatan terapi okupasi yang membantu anak memproses sensasi sentuhan dengan lebih nyaman, disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak setelah melalui proses asesmen.

Dengan pemahaman dan kesabaran yang tepat, anak yang sensitif terhadap tekstur bisa perlahan belajar merasa lebih nyaman menjelajahi dunia di sekitarnya, dengan caranya sendiri.

Comments


bottom of page