Anak Sensitif terhadap Suara? Mungkin ini Alasannya!

Anak menutup telinga setiap kali blender menyala. Menangis saat mendengar suara vacuum cleaner. Tidak betah lama-lama di mal karena terlalu ramai. Anda mungkin pernah berpikir, “Kok anak ini gampang banget terganggu sama suara, ya?”
Anak yang menutup telinga, tidak nyaman di tempat ramai, atau mudah terganggu dengan suara tertentu belum tentu sedang “rewel.” Bisa jadi, ada suara yang bagi orang dewasa terdengar biasa saja, tapi terasa jauh lebih intens dan mengganggu bagi anak tersebut.
Apa Artinya Anak Sensitif terhadap Suara?
Sensitif terhadap suara berarti anak bereaksi lebih kuat dibanding kebanyakan anak seusianya terhadap rangsangan suara tertentu — baik dari segi volume, jenis suara, maupun kombinasi banyak suara sekaligus. Ini berkaitan dengan cara sistem sensorik anak memproses rangsangan dari lingkungan, yang dalam istilah sederhana sering disebut sensory sensitivity.
Kenapa Suara Tertentu Bisa Terasa Sangat Mengganggu
Setiap anak memproses rangsangan sensorik dengan cara yang sedikit berbeda. Bagi sebagian anak, suara yang tiba-tiba, bernada tinggi, atau muncul bersamaan dengan banyak suara lain (seperti di tempat ramai) bisa terasa jauh lebih “banyak” dan sulit disaring, dibanding yang dirasakan anak lain pada umumnya. Beberapa contoh suara yang sering menjadi trigger: suara vacuum cleaner atau blender, suara alarm atau klakson, suara ramai di mal atau restoran, tangisan bayi lain, atau bahkan suara banyak orang berbicara bersamaan.
Apa yang Biasanya Dilakukan Anak Saat Suara Terasa Berlebihan
Reaksi yang umum muncul: menutup telinga, menangis, meminta pergi dari tempat tersebut, menjadi sangat rewel tiba-tiba, atau justru terlihat “membeku” dan diam. Di rumah yang tenang, anak bisa tampak baik-baik saja, tapi sangat overwhelmed ketika berada di lingkungan yang ramai dan penuh suara.
Bagaimana Ini Bisa Memengaruhi Keseharian Anak
Sensitivitas suara yang cukup intens dapat memengaruhi suasana hati anak, kemampuannya fokus saat belajar, kualitas tidur (misalnya terganggu suara dari luar kamar), keasyikan bermain, hingga kenyamanannya mengikuti aktivitas di tempat umum seperti sekolah, acara keluarga, atau tempat bermain.
“Tidak Suka Suara Tertentu” vs. Pola yang Mulai Mengganggu
Hampir semua anak punya suara yang tidak disukainya, dan ini wajar. Yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah ketika reaksi terhadap suara terjadi cukup sering, cukup intens, dan mulai membatasi aktivitas anak sehari-hari — misalnya anak jadi menghindari banyak tempat atau situasi hanya karena faktor suara.
Yang Bisa Dilakukan Orang Tua
Kenali trigger — perhatikan suara atau situasi apa yang paling sering memicu reaksi anak.
Beri peringatan sebelum suara keras muncul — misalnya, “Sebentar lagi Ibu nyalain vacuum cleaner, ya” sebelum benar-benar menyalakannya.
Beri waktu untuk beradaptasi — jangan langsung membawa anak ke tengah keramaian, coba mulai dari durasi singkat dulu.
Kurangi stimulus bila memungkinkan — misalnya menggunakan earmuff di tempat yang sangat ramai, atau memilih waktu kunjungan yang lebih sepi.
Jangan memaksa anak langsung menghadapi suara yang membuatnya overwhelmed — paparan bertahap lebih membantu dibanding memaksakan sekaligus.
Sediakan strategi menenangkan yang sesuai — tempat yang lebih tenang untuk beristirahat sejenak, atau aktivitas favorit yang menenangkan.
Kapan Perlu Berkonsultasi dengan Profesional?
Pertimbangkan konsultasi bila sensitivitas suara pada anak tampak cukup intens, terjadi di banyak situasi, dan mulai membatasi partisipasi anak dalam aktivitas sehari-hari — misalnya sulit mengikuti sekolah, acara keluarga, atau interaksi sosial karena selalu berusaha menghindari suara tertentu.
Pendekatan terapeutik dapat membantu anak belajar mengenali, mengelola, dan beradaptasi terhadap pengalaman sensoriknya sesuai kebutuhan masing-masing — bukan untuk “menghilangkan” sensitivitas tersebut, melainkan membantu anak merasa lebih siap dan nyaman menghadapinya.
Sebagai salah satu contoh, di BFL SQP Gading Serpong, terdapat lingkungan seperti Snoezelen Room yang dirancang dengan pencahayaan dan rangsangan sensorik yang terkontrol, yang dapat digunakan sebagai salah satu bagian dari pendekatan regulasi sensorik sesuai kebutuhan anak — bukan sebagai solusi tunggal atau jaminan anak menjadi tidak sensitif lagi terhadap suara. Jika sensitivitas suara pada anak Anda mulai memengaruhi aktivitas sehari-harinya, konsultasi dengan profesional dapat membantu memahami kebutuhan anak dan menentukan dukungan yang sesuai.
.png)


Comments